Tampilkan postingan dengan label klik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label klik. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 Januari 2019 0 komentar

Coretan Ke 26

Kupu-kupu malam

Semenjak ada ojol (ojek online), tempat makan itu kini jadi markas ojek yang berseragam jaket berwarna hijau hitam. Mereka biasa ngumpul dan ngobrol sesama ojol, sambil menunggu orderan. Topik yang dijadikan bahasan biasanya ngalor ngidul aja sih.

Biasanya ada beberapa perempuan yang nge-kost di penginapan itu, dan mereka akrab dengan ojol juga. Aku pernah mendapati mereka saling ngobrol di depan tempat makan itu. Kebetulan aku mau makan juga ketika itu. Dari setelah selesai ngobrol, perempuan itu balik ke penginapan yang kumaksudkan.

Ningsih, perlu kamu tahu. Rumah penginapan yang di sebrang warung makan tempatku biasa sarapan dini hari? Di sana sering parkir mobil-mobil mewah atau sekedar menurunkan penumpangnya. Pernah yang turun dari mobil itu, ikut makan di sebelahku. Wuiiih. Pokoknya kerasa banget aura "ituny", ini subejektif ya.

Dari penampilan pakaian dan dandanannya sih, jelas bukan level kelas menengah ke bawah. Aroma parfumnya juga berkelas gaes. Tapi dari makanan yang dipesan dan cara makannya yang sederhana, aku juga bisa tahu bahwa ia berasal dari orang biasa.

Pernah juga ada yang turun dari mobil dua orang cewek. Langsung ke tempat makan dan memesan mie goreng tak lupa es tehnya juga. Mereka ngobrolin seputar kerjaannya, klien, sampe hal-hal sepele. Kata salah satunya sih, gak sempet makan dan cuma minum aja.

Saat tulisan ini dimuat, barusan saja keluar sebuah mobil sedan hitam keluar dari rumah penginapan. Entah abis nurunin atau baru jemput pelanggan. Aku gak liat masuknya sih, jadinya cuma bisa ngira-ngirain ajah.

Dunia Gemerlap
Di balik duni yang carut marut ini, tentu ada hal di luar nalar manusia pada umumnya. Merekalah orang yang mengais kehidupan dengan cara ekstrim dan berbahaya. Selain mencedrai dirinya, kelak luka itu juga akan dibawa seumur hidup.

Dalam urusan bekerja, mereka juga tidak kalah giatnya dengan para pegawai kantoran dan pegawai lainnya. Ada target serta capaian yang musti mereka kejar, supaya terus eksis dan tidak kalah pamor dengan pendatang baru. Intinya persaingan di antara mereka amat ketat.

Dari sebuah sumber yang pernah dibaca, pengasilan mereka besar. Tetapi untuk menembusnya juga butuh cara yang ekstra keras juga. Belum lagi dituntut untuk bisa mengikuti orang yang membayar, sehingga kepuasan tiap orang standarnya beda-beda. Jadi, jika masih pemula dan tekadnya gak kuat, pasti mental duluan.

Mereka bisa dibilang perusak, tapi mengapa ada saja yang menggubakan jasanya? Sebab kenyataannya, ada yang lebih rusak dan bejat dari mereka. Lalu, dimanakah posisi kita saat ini?
___

Sabtu, 12 Januari 2019 0 komentar

Klik (bagian 25)

KECAPEKAN, UJUNGNYA TEPAR

Setelah berjibaku dengan kepenatan, beberapa hari. Saatnya direnggangkan.

Momen balas dendam setelah dua malam berturut-turut begadang sampe pagi terus, dan tidur dengan durasi pendek pula (harus melek lagi di siang hari). Hingga tibalah pembalasan itu terjadi, tadi malam (12/01/19).

Dari setelah magrib startnya. Bangun sebentar setelah adzan isya, lalu dilanjut lagi tidur sampe subuh. Tepar pokoknya. Gak usik-usik, gak denger apa-apa lagi selama tidur. Mimpi juga hadir sepertinya ketika menjelang subuh. Jadi mimpinya selesai gegara kebangun adzan subuh.

Mimpi jadi imam sholat. Raka'at pertama baca surat tapi dilagukan kayak qori gitu. Jadinya, harusnya cepet selesai malah jadi lama. Ujungnya jamaah pada kabur semua, sisanya cuma dua orang.

Di tengah rumor pembicaraan itu, maka terbangunlah aku dari tidur. Badan sudah terasa enakan dan tak seperti kemarin, kepala agak pening serta tak karuan. Sudah fit, meski belum seratus persen.
__

Inilah yang perlu kamu tahu Ningsih. Ketika aku tak berkabar dan slow respon yang dikarenakan hal ini. Jadi, bukan karena selingkuh atau kencan dengan perempuan lain ya! Jangankan demikian, berbuat jahat padamu sedikit saja, tak pernah terbesit dalam otakku.

Sungguh naif jika dirimu menuduhku macam-macam. Sekali lagi, jelas tuduhan itu dapat kupatahkan, terkesan mengada-ada dan tanpa dasar. Oleh karenanya, santai saja ya. Aku gak kemana-mana. Cuma kecapekan dan tidur pulas. So, jangan marah lagi ya...
___

Rabu, 02 Januari 2019 0 komentar

Klik (bagian 24)

HARAPAN BARU DI 2019

Tahun lalu, kuanggap dirimu masih ada. Tapi tahun ini sepertinya hati ini sudah tak lagi ada untukmu. Lebih tepatnya, ada hal yang lebih kuprioritaskan. Ada harapan yang mesti kugapai tanpa dirimu untuk sementara waktu.

Kutahu ini pilihan sulit, pilihan tak biasa dan bujan sesuatu yang mudah. Aku yakin bisa dilalui kok. Sesuai dentan teorinya harapan, harus ada yang dikorbankan atau direlakan untuk sementara waktu, demi sesuatu yang akan diperoleh nanti.

Aku pasti kuat. Aku pasti akan rindu dengan semua omelan, candaan, bahkan sikap acuhmu yang kadang menghadu-biru dalam komunikasi kita. Aku juga merindukan saat-saat dulu kita berdua menikmati indahnya matahari di sore hari. Merindukan bunyi peluit di stasiun, makanan mie rebus dan ketoprak khas bikinanmu.

Selamat tinggal Ningsih, selamat jalan untuk sementara waktu. Percayakan padaku, bahwa hati ini sedari dulu tak pernah dibagi kepada siapa pun. Bukan karena tidak ada yang lebih cantik darimu, tetapi karena aku sudah tidak mampu lagi untuk melakukan hal itu. Bagiku, keberadaan dan kebersamaan dirimu sehingga menjadi kita, sudah menjadi hal yang luar biasa. Aku tidak mau hal yang luar biasa ini ternodai.

Jika perjalanan yang sudah lama ini dinodai atau ternoda oleh hal sepele, rasanya sungguh terlalu. Perjuangan yang kita tempuh bukan waktu singkat, bukan sekejap mata, tetapi butuh usaha dan perjuangan yang besar. Waktu, tenaga dan perasaan yang masing-masing telah kita korbankan untuk kebersamaan ini.

Jadi, kesimpulannya itu aku bukan tipikal orang yang mudah membagi hati dengan perempuan lain. "Senyumku boleh untuk siapa saja, tetapi hatiku (perasaanku) hanyalah untuk dirimu seorang..." ini kata mutiaraku yang sejak dulu telah kurangkai.

---

Sabtu, 29 Desember 2018 0 komentar

Klik (bagian 23)

CEMBURU KAYAKNYA SIH

Ningsih spertinya sedang cemburu. Cemburu jika aku menghubungi dan mengutamakan orang lain. Wajar sih, tapi perlu dicatat juga, bukankah pas awal-awal juga aku srering digituin? Aku gak marah, biasa saja. Tapi kok sekarang dia marah gak jelas ya? Padahal sudah imbang, skornya kita satu-satu.

Bahkan jauh-jauh hari, aku sudah menganggap semuanya seperti hal yang pada umumnya orang pernah alami. Tapi, mungkin bedanya, ada sedikit nuansa nilai-nilai agama yang kutanamkan. Supaya tidak hilang begitu saja tanpa ada pahala yang didapatkan. Amalan dunia jika tidak diniatkan amalan akhirat, maka akan tetap menjadi amalan dunia. Kecuali diniatkan menjadi amalan akhirat, begitu juga sebaliknya ya.

Dalam hidup tentu banyak halangan dan rintangan, baik bentuknya besar maupun kecil. Sejatinya yang besar itu akumulasi dari masalah-masalah kecil. Tersebab masalah kecil itu tak kunjung disapu dan dibersihkan, maka menumpuklah sehingga menjadi tumpukan yang tinggi lagi besar. Alhasil, tanpa disasadari sudah sebesar gunung.

Mungkin inilah yang akhirnya menjadikan masalah tersebut sulit untuk disingkirkan. Kita terlalu sering menunda dan mengesampingkan masalah kecil, sehingga masalahnya runyam, mirip gulungan benang yang ujung-ujungnya melilit semrawut.

Hari ini kita mengalami hal yang demikian rumit. Tumpukan masalah dari masa lalu dibawa ke kehidupan hari ini. Sehingga semua terasa sumpek dan membebani isi kepala, dari yang remeh hingga setumpuk gunung.

Semua cukup sederhana dan simpel. Nikmati proses itu, maka akan diperoleh hasilnya kemudian. Sabar dan sabar dengan proses yang dijalani. Yakinlah ada hikmah dari setiap kejadian.
___

0 komentar

Klik (bagian 22)

DIBLOKIR, SUDAH BIASA

Seperti kebanyakan perempuan yang kalau datang bulan suka marah-marah gak jelas. Tapi, kayaknya itu hanya butuh teknik bagaimana mengelola diri saja sih, mengubah mood yang tak baik menjadi baik. Malah, hal itu (datang bulan bikin bad mood) menurut pendapatku hanya jadi bahan senjata bagi perempuan untuk mendukung bahwa hal itu benar dan bukan atas kehandak dirinya. Misal seperti mengidam, terus si istri bilang "ini keinginan bayi lho..."

Fenomena ini bisa dijelaskan secara ilmiah dan bagaimana sebetulnya semua itu berjalan. Adanya perubahan hormon sih iya, tapi jika dikendalikan tetap bisa dan diubah ke yang lebih positif sangat baik juga. Jadi, pembenaran dengan cara-cara klasik, menurutku sangat keterlaluan.

Mungkin ini pula yang sedang dialami oleh Ningsih. Marah-marah gak jelas. Ngomong dikit, salah. Ini salah. Itu, juga salah. Wes aku tak meneng ae.. eh tambah salah juga. Sayangnya dia memang malas baca dan mungkin menolak untuk membaca apa yang aku suguhkan. Daripada bikin ribut parah, mendingan cari aman. Jangan ganggu orang yang sedang mensturasi.

Diblokir medsosku atau apapun terserah deh ya. Asal dirimu senang ya lakukanlah. Nanti juga malu sendiri. Lagi pula hal ini sudah sangat sering dirimu lakukan. Parahnya, sedikitpun tak ada perubahan. Untuk hal ini aku apresiasi deh, dirimu cukup konsisten dan tak pernah sekalipun mencari solusi terbaik dalam sebuah masalah.

Masalah dikit, ujungnya blokir dan blokir. Saking seringnya jadinya sudah kebal deh. Bahkan, sudah kayak makanan sehari-hari kayak nasi gitu. Padahal sesekali pengen makan bubur atau ketupat plus lontong ya. Kayaknya sih bisa bahaya juga kalau setiap hari dan jadi kebiasaan, ujung-ujungnya mah bosen juga. Ah, jadi gak sehat.

Intinya ya harus terus ada sesuatu yang baru, atau tidak mesti baru, melainkan ada hal yang kudu diubah jika dirasa sesuatu itu sudah agak membosankan. Mungkin ini yang namanya "membangun" ya, bukan lagi "menjalin".

____
*Ya udah aku diam aja...

Kamis, 27 Desember 2018 0 komentar

Klik (bagian 21)

TERKOYAK REMUK

Sepertinya dirimu berhasil mengoyak tubuhku, Ningsih.

Sudah seharian tubuh ini tak dialiri dengan yang namanya makanan, malah dirimu menambahnya dengan siksaan pula. Memang sikasaan ini tak menumpahkan darah setetes pun, tetapi hal itu mampu meremukan dari dalam dengan seremuk-remuknya.

Sakitnya sungguh sakit. Lebih sakit dari difitnah. Lebih dahsyat dari suudzhan.

Mungkin ini yang disebut oleh Errich Fromm tentang dilema eksistensial itu. Di mana selalu ada dua sisi dalam diri manusia, yang saling dominan kadang berusaha untuk melenyapkan.

Apakah dirimu masih waras? atau sudah gila? Ataukah nalar logikamu sudah tidak jalan dengan semestinya. Sebab dipengaruhi kebebasan.

Perlu dirimu tahu, di saat orang berusaha mendapatkan kebebasan. Ada manusia yang juatru malah lari dari yang namanya kebebasan. Baginya, kebebasan itu sesuatu yang berbeda. Kita manusia, hidup pasti punya tatanan yang harus diikuti dan dijalankan. Jika tidak, maka akan malah jadi aneh.

Jika tetep kekeh bahwa kebebasan itu baik bagimu. Silakan lepaskan pakaian yang kini dikenakan. Jika dirimu waras tentu dalan dirimu akan menolaknya.

Pahamilah, kebebasan itu bukan miliknya manusia. Sebab manusia punya akal dan moral. Kebebasan sejatinya khusus bagi yang tak berakal. Jika tak percaya, silakan baca buku "Escape from Freedom"...
___

Rabu, 26 Desember 2018 0 komentar

Klik (bagian 20)

TAK BERGAIRAH & SEDIH

Semenjak musibah itu datang, hatiku kini terasa gelisah dan tidak tenang. Aku juga heran dengan semua ini, entah karena terlalu diresapi (baper) atau karena banyak perang batin semata yang tiada berkesudahan. Maksud perang batin, yang kumaksud yaitu banyak hal sudah tidak sesuai dengan semestinya. Seperti sudah kacau-balau tatanan hidup ini.

Cara yang biasa kulakukan untuk menepis kegalauan ini, ya dengan mencari sumber bacaan yang mengubah mindset kembali semangat.Tetapi, aku belum menemukan bacaan yang sedang kucari tersebut hingga tulisan ini dimuat. Paling sering dilakukan sih membuka alquran, dibaca, dihayati, dimaknai, dan dicari hikmahnya.

Setiap manusia wajar punya kegelisahan, kegaulauan dan keresahan. Meskipun demikian, supaya tidak berlarut-larut dalam menjalaninya yaitu dengan selalu menjaga sikap optimis itu harus tetap ada. Sehingga tidak mudah goyah apalagi tumbang dengan terpaan angin yang datang dalam skala tak seberapa itu. Harus cepat mengalaisa dan menemukan solusinya.

Ketika pencarian jawaban-jawaban di atas, pada saat datang ke kegiatan rutinku di Masjid Jendral Sudirman untuk Ngaji Filsafat, Dr. Fahrudin Faiz seolah menasihatiku secara pribadi melalui kata-katanya. Kalimat itu kutangkap dengan cepat. "Setiap ada masalah, fokusnya bukan terletak pada solusi. Tetapi pastikan dulu bahwa dirimu kuat. Sebab banyak masalah yang belum ditemukan solusinya..."

Sejam sebelum datang ke Masjid Jendral Sudirman, agendaku ikut hadir di pengajian Rabu malam di Masjid Baiturrahman Pringgolayan. Kebetulan kajiannya tentang Kitab al-Hikam karangan Ibnu 'Athaillah dan bahasannya mengenai dzalim dan iman. Pesan yang kutangkap yaitu "Mental orang dzalim itu ketika diberi nikmat kufur diberi ujian mengeluh. Sedangkan mentalnya orang beriman diberi cobaan bersabar, diberi kelapangan bersyukur.

Semuanya hanya mengenai kesiapan saja. Bagi yang sudah siap dengan segala kondisi, tak masalah ketika hidupnya serba kekurangan. Tetapi bagi yang tidak siap, begitu serba sulit langsung panik. Kuncinya cuma bagaimana mengatur kesiapan tersebut. Nah, orang-orang yang beriman dan bertakwa itu secara tidak langsung kesiapan mental di atas tadi sedang dibangun.

Jangan heran, bila menemukan orang yang sudah pada level tingkat ini, mereka dalam kondisi apapun tetap tidak goyah.sebab semuanya dikembalikan kepasa Allah swt. Iman dan takwa yang teguh; kokoh; kuat dan sempurna itu, mengantarkan dirinya pada fana, dan semuanya hanya milikNya.

Ningsih, itulah kenapa alasanku bahwa semenjak beberapa hari ini aku sedikit tidak cepat respon (slow respon) atas pesan-pesanmu. Ada beberapa hal yang sedang kucari jawabannya. Salah satunya jawaban yang telah kudapatkan ialah pertanyaan yang ini. "Aku mencari dan meminta kebijaksanaan..." Ternyata semua jawaban itu Allah swt beri lewat Masalah-masalah dan aku diminta untuk menyelesaikannya.

Saat ini, masalah-masalah itu seolah semakin numpuk untuk diselesaikan satu persatu. Sayangnya, banyak mentok dan buntu. Ujungnya, kini bingung harus memulai dari mana lagi... Semoga Allah.swt memberikan dan membukakan jalannya supaya lebih mudah...

Senin, 24 Desember 2018 0 komentar

Klik (bagian 19)

WAJAH PASARAN

"Kemarin Aku bertemu dengan seseorang yang mirip banget lho wajahnya sama Kakak. Dari putihnya, gaya rambutnya sampai janggut tipisnya juga..." Ini obrolan pembuka yang Ningsih lakukan. Lagi-lagi, demi menjaga suasana mood suasana hatinya, aku simak dengan baik dan tetap antusias. Meskipun sebetulnya, kadang hal ini sering para perempuan lupakan, bukankah mereka juga tidak suka dibanding-bandingkan atau disama-samakan dengan yang lainnya?

Ini sedikit catatan ya, pokoknya jangan pernah ngebandingin orang lain jika diri sendiri saja sejatinya tidak sudi ketika dibanding dengan orang lain. Kalau orang yang dibandingin itu gak sesuai, bisa saja marah. Tapi, jujur! Kalau aku mah enggak akan marah. Sebab bagiku semuanya terserah yang ngomong aja, itu haknya. Adapun hakku adalah mengklarifikasi atau mengkoreksi bila ada yang tidak sesuai.

Intinya sih, ngobrol kami normal seperti biasanya. Mengalir dan kadang ada candaan sedikit supaya tidak terlalu tegang. Malah kalau agak sunyi, aku sering ngomong yang aneh-aneh atau berbau horor. Kadang iseng ngomong "Eh, di belakangmu itu apa ya? Itu yang baju putih.." atau "Itu tadi bayangan hitam yang berkelebat apa ya?.."

Pokoknya keisengan ini kadang digunain kalau obrolan sudah terasa agak garing atau gak ada topik pembicaraan yang dibahas secara menarik. Sayangnya, aku terus yang sering pake teknik ini. Aku nunggu-nunggu Ningsih yang ikutan juga pake caraku, tapi sampai saat ini belum pernah ada. Berharap suatu saat akan terjadi.

Komunikasi yang ingin kubangun adalah komunikasi asertif. Komunikasi asertif itu artinya kominikasi yang sampai secara elegan dan tidak mengalami perubah makna maupun gaya sipenuturnya. Atau menurut wikipedia itu dijelaskan dengan definisi sebagai berikut:

"Komunikasi asertif adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Ketika kita dengan tegas dan positif mengekspresikan diri kita. Tanpa maksud mengalah dan juga menyerang orang."

Intinya disampaikan secara jujur apa adanya, dengan inti pesan itu sendiri yang ingin dicapai atau dituju. Sekali lagi, fokusnya ke inti pesan yang disampaikan, bukan ke ekspresi atau hal-hal yang lainnya. Kategori perilaku asertif itu ada tiga. Pertama, menolak secara halus. Kedua, mengungkapkan pujian. Ketiga, meminta orang lain untuk melakukan sesuatu.

###
Kembali ke obrolan Ningsih yang di atas tadi. Premis yang dilemparkan oleh Ningsih kadang sukar diterka. Tiba-tiba bikin punchline baru lagi. Aku malah menikmati keseruan dengan apa yang ia lakukan. Kebaruan yang selalu ditampilkan membuat suasana begitu asyik dan makin berwarna. Bukankah pelangi itu indah disebabkan karena variasi warnanya? Gak kebayang jika ada pelangi, tetapi hanya terdiri dari satu warna saja. Bisa-bisa wajahku dikira pelangi juga dong, sebab muka pasaran. Heehee...
Minggu, 23 Desember 2018 0 komentar

Klik (bagian 18)

Kisah Gunung Krakatau

Perlu kau tahu Ningsih, Ketika ada kabar tentang peristiwa musibah tersebut, yang ada dama benakku ketika itu tertuju pada sebuah buku yang pernah kutata di perpustakaan. Bukunya lumayan tebal dan memuat tentang kejadian di masa silam.

Buku yang ditulis oleh Simon Winchester ini mencatat, masa kejang-kejangnya selama 20 jam 56 menit. Ledakannya disepakati terjadi pada pukul 10.02 pagi, hari Senin 27 Agustus 1883. Ia adalah Gunung Krakatau. Berarti dari hari Ahadnya tgl 26, gejala Krakatau akan "batuk" sudah terdeteksi.

Ledakan Gunung Krakatau tersebut ternyata cuma berada diurutan kelima dari ledakan gunung terbesar yang pernah terjadi di dunia. Diurutan pertama ada Letusan Gunung Toba. Lalu yang kedua ada Gunung Tambora. Ketiga Gunung Taupo dan keempat, Gunung Novarupta. Meski demikian, material yang dikeluarkan dan jumlah korban yang jatuh dari letusan Krakatau ini lebih banyak dari letusan gunung lainnya.

Di buku ini juga dikisahkan kehidupan masyarakat Anyer sebelum kejadian meletus Gunung Krakatau dan sesudah kejadian. Terutama ketika orang-orang Belanda hidup dan tinggal di Anyer. Lalu ada pula kesaksian para pelaut yang pernah menyaksikan akan keberadaan gunung berapi yang sangat menyeramkan. Bahkan setidaknya ada berberapa kapal yang hancur dihantam air dari letusan krakatau.

Suasana alam sebelum dan sesudah terjadi letusan krakatau dijelaskan dengan baik, bahkan ada pendukung gambarnya. Bahkan ada peta yang menjelaskan awal bentuk pulau ini, bagaimana aslinya. Setelah letusan itu, akhirnya terpisah seperti sekarang. Lalu, ledakan dahsyatnya ini pula membuat sepertiga dunia gelap. Pemerintah Belanda sampai mengirimkan utusan khusus untuk keninjau kejadian ini.

Fakta-fakta ini sengaja tidak ku-upload dan tidak kujadikan status di medsosku. Sebab aku paham akan kondisi yang saat ini terjadi, bila fakta-fakta ini disebarluaskan, khawatir akan menambah panik masal dan resah di masyarakat. Itulah sebabnya aku tetap menahan diri dan hanya mengamati berita.

Menurutku, diam dengan data yang diperoleh dari bacaan ini, dipandang sebagai langkah bijak dan lebih baik. Memilih untuk memastikan kondisi kerabat jauh yang ada di sana dalam kondisi yang aman dan baik. Jauh lebih penting. Oh ya, Kuharap kondisi dirimu juga selalu baik ya di sana.

___

0 komentar

Klik (bagian 17)

BELAJAR DARI MUSIBAH

Ningsih, tahukah dirimu bahwa tepat di ujung barat kabupatenku, dapat musibah. Kemarin (22/12/18), tepatnya sekitar pukul 21.00 wib. air laut menghempas tepian pantai. Katanya gelombang yang datang setinggi 2 meter. Info dari twitter BMKG bahwa itu hanya air pasang yang disebabkan pulan purnama, dan masyarakat dihimbau untuk tenang dan tidak panik.

Sekedae informasi, di sana ada anak Gunung Krakatau yang setiap detik mengancam dan meluluhlantahkan semua yang ada. Termasuk menghilangkan nyawa kami dengan sekejap. Tahun 1883 tepatnya di hari senin pukul 10.56 Ibu Gunung Krakatau meletus. Semenjak ibunya hilang, muncul anak yang baru sebagai tunasnya.

***

Pukul setengah sepuluh tadi malam (22/18), saya dikagetkan dengan sebuah pesan suara dari whatsapp. Isinya kurang lebih begini "Mohon doanya, semoga kami diberikan keselamatan. Ini sekarang lagi ngungsi di gunung..."

Setelah mendapat kabar (yang cukup bikin hati gelisah tersebut) dari salah seorang keluarga jauh ini, saya langsung cek ke internet dan nyari info terbaru. Terutama ke situsnya BMKG dulu, tapi updatenya yang terakhir itu tentang gempa lombok tadi sore hari. Untuk info Labuan - Banten belum ada.

Buntu di sana, cari info diberita online. Tapi masih minim sumber yang di dapat. Maka kesimpulan sementara yang saya cari belum didapat. Akhirnya coba mengais informasi dari kerabat yang tadi sedang mengungsi. Katanya, pas terakhir chatt, ada getaran yang cukup kencang. Ada sura dentuman keras juga, tapi cuma sekali.

Setelah dicek lagi ke berita onlien, didapatlah info dari twitter bmkg yang menyatakan bahwa hal itu bukan tsunami, hanya gelombang pasang biasa yang disebabkan bulan purnama. Masyarakat diminta tenang. Karena mendapati info dari bmkg seperti itu sudah agak tenang.

Tetapu setelah beberapa menit, hape mulai rame dengan kiriman video dan kiriman suara orang yang sedang panik dan suaranya tersengal-sengal. Ada video air yang naik, orang yang siap ngungsi dan lain sebagainya. Dugaan sementara, jangan-jangan ini hanya dibesar-besarkan beritanya oleh oknum tertentu. Makanya saya tetap menahan diri untuk tidak gegabah dan mengupload sesuatu untuk dijadikan status di medsos.

Asumsi awal saya ketika itu, tentang anak Gunung Krakatau. Makanya yang saya tanyakan pertama kali ada gempa atau tidak, jawabnya tidak ada, hanya yang ada getaran saja. Terus yang kesapu air laut, itu yang jaraknya benar-benar dekat dengan tepi pantai. Sehingga wajar kalau rusak dan hancur semua. Air laut sudah sampai ke jalan, karena posisi jalannya memang di dekat pantai.

Tetap berusaha tenang dan berpikir jernih. Ini yang saya coba lakukan. Sambil mencari informasi sebanyak mungkin, supaya tidak salah informasi. Awal-awal sempat sedikit kecewa juga dengan situsnya BMKG yang seolah bikin seseuatu yang terkesan tidak serius, katanya gak berpotensi tsunami tapi yang di lapangan terjadi cikup bertolak belakang.

Belakangan baru saya tahu kenapa BMKG terkesan lambat dan sekaligus terkesan inkonsisten, cukup wajar hal ini terjadi sebab ternyata alat yang digunakan oleh bmkg tidak secanggih alat dan semodern yang dimiliki negara Jepang. Alat mereka lebih akurat dan cepat. Sehingga bisa lebih dini juga memberikan informasi terkait bencana.

Terkait dengan musibah yang sudah terjadi ini, mari kita jadikan pelajaran dan proses untuk intropeksi diri terutama tentang hubungan kita dengan sang maha pencipta. Musibah ini teguran, peringatan bagi kita yang mungkin sudah lalai atau melupakan dirinya. Mari tingkatkan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah swt. jangan buat Dia marah sehingga mengirimkan azab yang lainnya.

Cukuplah yang demikian ini sebagai bentuk peringatan bagi kita sebagai manusia yang berpikir. Allahu'alam...

Jumat, 21 Desember 2018 0 komentar

Klik (bagian 16)

Ningsih, sebenarnya ada banyak kisah yang ingi kuceritakan padamu. Tetapi sepertinya kisah itu enggan mencul dan seolah malu-malu bila kubawakan kehadapanmu. Kisah-kisah orang hebat, saleh, dan sekaligus manusia pilihan yang telah Allah tunjukkan sebagai bahan pelajaran bagi hambanya.

Satu contoh, kisahnya Nabi Isa as. Nabi kedua terakhir yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw. Beliau diberi mujizat bisa menghidupkan orang yang sudah mati dan menyembuhkan orang yang sakit. Lalu, kelahirannya ke dunia merupakan bukti kekuasaan Allah swt. yang tak ber-ayah.

Beliau dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang mernama Maryam. Siapkah Maryam? Kok bisa dijadikan perantara untuk mengandung seorang utusan tuhan di masanya. Tentu ia bukan manusia yang biasa. Bukan perempuan yang seperti kebanyakan. Bahkan alquran mencatat kisahnya sebelum mengandung Isa as.

"Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu)." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 42)

Maryam adalah anak Imran. Namanya diabadikan dalam salah saru surat yang ada dalam alquran (Ali Imran). Berarti ayahnya Maryam bukan manusia sembarangan pula. Banyak hal yang perlu digali, dibaca, dan dipahami lagi.

Pelajaran yang bisa diambil dari catatan di atas, sebagai berikut: Pertama, kebanyakan orang lupa bahwa peran orang tua dalam menjadikan generasi hebat sangat menentukan. Jika anaknya ingin jadi orang hebat, maka orang tuanya kudu mempersiapkan diri dengan baik pula.

Kedua, ketika anak sudah lahir, harus diarahkan, dibimbing dan diberikan pengajaran yang baik. Sehingga akan membentuk sang anak menjadi pribadi yang memiliki wawasan luas ilmunya melimpah.

Ketiga, dibantu dengan doa dan riyadhah (dipuasain). Sang anak berusaha dengan kekuatan lahiriyah dan orang tua berusaha dengan bathiniyah. Syukur-syukur bila anaknya menjalani usaha lahiryah dan bathiniyah juga. Maka akan semakin melejitkan kemampuannya.

Ningsih, semoga kelak kita bisa menjadi keluarga seperi Ali Imran. Harapan dan usaha itu harus tetap ada, meski tidak mampu menyamai dengan yang dituju. Semoga jadi pahala dan mampu melahirkan generasi yang berkualitas, bertaqwa, menjadi manusia bumi tetapi terkenal di penduduk langit.

Rabu, 19 Desember 2018 0 komentar

Klik (bagian 15)

"Tak perlu kata maaf dan air mata. Aku rela dirimu pergi. Aku bisa tahu apa yang kau mau dengan pilihanmu... Asal kau tahu, seumur hidupku, Aku tetap cinta...."

Lirik lagu di atas adalah diambil dari Repvblik yang judulnya Aku Tetap Cinta. Dari isi kalimatnya bisa dipahami bahwa sepenuhnya ia telah merelakan cintanya pergi dengan orang lain. Cinta itu tanpa syarat, jika masih ada syarat berarti sejatinya itu belum dan bukan cinta.

Jika kita pahami dari sudut pandang teori kebutuhan Abraham Maslow (1908-1970), kebutuhan cinta dan rasa memiliki itu berada di level ketiga setelah kebutuhan akan rasa aman dan kebutuhan fisioligis.

Atau jika dalan kajian unity kompleks, rasa cinta itu setara dengan kebutuhan rasa nyaman, dan itu berada pada unsur atau dimensi basyariah. Inilah perbedaan manusia dengan makhluk lainnya, dengan cinta inilah manusia bisa kreatif dan inovatif.

Setiap orang ingin mempunyai hubungan yang hangat dan akrab, bahkan mesra dengan orang lain. Ia ingin mencintai dan dicintai. Dengan demikian ia akan bisa saling membutuhkan dan berbagi dengan lawan jenisnya. Ini kebutuhan alamiah yang sudah Allah berikan kepada makhluknya yang bernama manusia untuk bisa berkembang biak, beranak-pinak.

Masalahnya, apakah cinta itu ibarat gayung bersambut atau hanya bertepuk sebelah tangan. Apakah jenis cintamu bewarna seperti pelangi; bermotif atau monokrom?

Sore ini ku menyusuri jalanan jembatan merah dan gejayan. Dengan bersepeda sore setidaknya dapat menghilangkan penat dan keruwetan yang ada. Fokus teralihkan dan ketika bersepeda bisa bebas melantunkan potongan ayat-ayat quran, berceramah, atau sekedar latihan berorasi.

Aku hanya menggoes pedal kemana ia ingin pergi, tak ada tujuan yang jelas. Hanya mencari suasana yang berbeda. Biasanya setelah jalan, dapat beberapa ide baru.

Semua alat komunikasi kulepaskan sejenak. Bagiku, perlu dibiasakan untuk tidak terlalu bergantung kepada alat-alat komunikasi. Salah satu caranya dengan seperti yang kulakukan. Bila nanti Ningsih menghubingi atau nyari-nyari, biarkan saja. Hidup lebih nyaman bila berada di alam nyata bukan?

Hidup gak sempit, gak sumpek, dan gak susah. Tinggal jalani saja, itu kuncinya.

---

0 komentar

Klik (bagian 14)

".... Tak bisa Aku menyalahkanmu. Inilah jalamu, inilah nasibku yang tak kusuka. Asal kau tahu, seumur hidupku Aku tetap cinta..."

Itulah, kutipan lagu dari Revublik yang judulnya Aku Tetap Cinta; yang kudengar dari sound pos SISKAMLING sebelum gang tempat asramaku berada. Makin lama lagunya semakin mendayu-dayu seiring kuberjalan melangkah menuju jalan raya. Dari kejauhan Aku juga sedikit menikmati serta menyimak beberapa lirik dari lagu tersebut.

Sepertinya, lagu ini sedikit cocok untuk menggambarkan situasi perasaanku dengan Ningsih. Semoga engkau mendengarkan lagu yang kumaksudkan di atas! Sumpah lagunya mellow banget. Gak tahu jelas sih lagu ini berkisah tentang apa tapi lirik dan nadanya cukup menyentuh.

Apa aku yang baper ya? Sedikit-sedikit jadi langsung dibawa ke perasaan. Atau karena ada sesuatu yang lebih dalam dari baper, sehingga berimabas ke mana-mana. Jalan gak fokus, mata kunang-kunang, dan kadang sering lupa ini dan itu. Banyak banget yang kualami semenjak ada konflik kecil dengan Ningsih.

Atau gara-gara perang batin yang selama beberapa bulan ini terus hadir dalam pikiranku. Seolah bisikan gaib itu akan  menunjukanku ke sebuah tujuan tertentu. Yang bikin heran itu, kadang muncul dalam bentuk suara sekelebatan, "Dia itu gak keibuan..." atau "Jangan deketin..." dan pernah juga "Jangan lewat situ..."

Suara bisikan itu kadang agak menganggu, kadang juga merasa terbantu. Harus terus lebih dibolak-balik berulang kali dalam mengambil sebuah keputusan yang akan diambil. Tidak sekedar asal-asalan.

Mungkin ini salah satu unsur dalam hidup yang berupa insting, atau dimensi nabatiah dari proses hidup yang awal dan paling dasar, sesuai dengan teori kehidupan manusia. Unsur bawaan inilah yang secara sadar atau tidak ada dalam diri kita. Sewaktu bayi, ketika kita lapar atau tidak nyaman, maka yang dilakukan adalah menangis. Inilah insting, unsur nabatiah manusia.

___

Selasa, 18 Desember 2018 0 komentar

Klik (bagian 13)

Karena sering baca tulisan Pak Cah (Ust. Cahyadi Takariawan) di facebook, sedikit demi sedikit rupanya sudah mulai terasa ada perubahan pada sikap yang kuambil dalam memutuskan sebuah urusan. Terutama ketika menangani makhluk yang satu ini, ia bernama Ningsih.

Mau tak mau, aku coba menghubunginya lewat panggilan whatsapp. Tentu telah kupastikan kira-kira ia sedang sibuk atau tidak. Lagi-lagi, kalau salah sedikit saja, bisa kena omel dan tambah masam mukanya nanti. Dia pasang tuh muka cuek, manyun, dan cemberutnya kalau kami bertemu.

"Hallo, assalmualaikum.." Kuucapkan salam, untuk mengawali. Rupanya di sana, kondisininya lumayan berisik. Ada yang ketawa-tawa dan terdengar suara beberapa perempuan yang sedang ngobrol juga. Entahlah, mungkin sedang mengerjakan sesuatu sepertinya mereka.

"Iya, waalaikum salam..." Jawabnya singkat. Mengetahui keadaan yang kurang kondusif, maka tema obrolan pun kuganti, kupotong seketika. Lalu, buru-buru kusudahi obrolan teleponnya juga. Agak sedikit gak enak dan riskan pokoknya kalau situasi tekesan rame. Paling nanti deh kapan-kapan dihubungi lagi. Nunggu waktu yang pas pokoknya.

Nah, beberapa jam setelahnya, kucoba untuk menghubungi ulang. Eh, ternyata gak ada respon. Nyambung sih, tapi gak diangkat. Mungkin sedang sibuk dan ada banyak tugas dari atasannya. Jadi posisinya jauh dengan smartphone. Ini sih tebakanku saja.

Tak berapa lama ada whatsapp masuk "Maaf disilent, jadinya gak keangkat barusan.." Demikian isi pesan tersebut dari Ningsih. Ia juga langsung mengetik begitu pesan itu kubuka dan kubaca. "Ada yang mau ditanyakan..." Timpalnya.

Karena merasa kondisi dan situasinya makin gak pas, ya sudah kubalas saja. "Gak, tadi kepencet tombol panggilannya..." Pokoknya situasi semakin gak jelas! Kacau balau. Biarlah nanti aku dapat muka cemberutnya. Tinggal cari cara buat ngebaiknnya lagi.

Kata Maslow, setiap orang punya kebutuhan spiritual yang berupa kenyamanan batin, dan ini sudah jadi sifat alamiah manusia. Kebutuhan spiritual ini berhubungan erat dengan pertumbuhan kepribadian dan kematangan individu. Sehingga, dari sini aku yakin cepat atau lambat ia akan berubah mengikuti kedewasaannya.

Saat ini mungkin belum dewasa, cara berpikirnya masih pendek, dan apa-apa harus sesuai dengan keinginannya. Tapi seiring berjalannya waktu, ia akan belajar untuk menyesuaikan diri dan mencari kebutuhan spiritualnya sendiri. Lagi-lagi ini doa dan harapanku yang tiada akhir.
___

Senin, 17 Desember 2018 0 komentar

Klik (bagian 12)

Kemarin tiba-tiba datang dan seolah caper, eh setelah chatt terakhir itu hilang lagi. Bak ditelan perut bumi, tak bersisa. Apa aku yang mesti duluan? Sengaja kamu nunggu biar aku peka? Ah, intinya kayak terasa sunyi senyap handphone ini tanpa ada konfirmasi darimu.

Lagi pula, bukankah tempo hari juga aku yang selalu duluan ngechatt. Aku kirim sesuatu yang simpel kadang juga agak remeh, sebagai awal pembuka obrolan kita dichatt. Intinya, sekedar basa-basi supaya ada respon dari dirimu.

Sumpah, ini tuh cukup rumit, susah untuk dipecahin dan dicari solusinya. Entah dengan cara apa dan bagaimana supaya aku bisa mengubahnya. Bikin mumet kayak berita yang kubaca di koran hari ini (Republika, 18/12/18) tentang plastik.

Menurut penelitian Divers Clean Action pada tahun 2017, orang-orang di 10 kota besar di Indonesia menghabiskan 93.244.847 batang sedotan perharinya. Jika disambungin satu persatu, panjangnya mencapai 16.784 kilometer.

Penelitian lain dari Jenna R Jambeck, tahun 2015. Menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara kedua penyumbang sampah plastik lautan terbanyak di dunia dengan jumlah sampah plastik 3,22 juta metrik ton pertahun, atau setara 10,1 persen sampah plastik di planet bumi.

World Wide Fund for nature (WWF) Indonesia tahun 2016, juga memprediksi ada 500 juta hingga 1 miliar kantong plastik yang digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Untuk memproduksinya dibutuhkan sekitar 12 juta barel minyak pertahun dan 14 juta batang pohon yang ditebang.

Sungguh dan sangat gila data di atas bukan? Memahamimu mungkin lebih "njlimet" dari angka-angka dan data di atas. Kuakui satu orang spertimu saja susah untuk aku taklukkan, karena aku sadar bahwa manusia mempunyai satu hal yang tidak dapat diukur, yaitu hati.

Seperti dalam pepatah, "Dalamnya lautan dapat diukur. Adapun dalamnya hati seseorang, siapa yang tahu..." Intinya, supaya bisa memahami isi hatimu maka aku pun harus pula menggunakan semua kemampuan hati yang kupunya untuk menaklukkan tantangan ini. Semoga saja bisa diusahakan dan diberi kemudahan.

Ningsih, jika sampai sore nanti kabarmu juga tak kunjung hadir, maka dirimu sudah sangat keterlaluan. Sungguh teganya! Berarti selama ini, aku kau anggap apa? Semoga saja ada kejutan yang tak terduga seperti kemarin.

____

Minggu, 16 Desember 2018 0 komentar

Klik (bagian 11)

Pagi ini cuaca amat cerah, secerah hatiku yang sedang berbunga-bunga. Meskipun dari info BMKG yang kudapat, nanti siang kondisi Jakarta akan turun hujan deras. Sedikitpun tak merubah cuaca hatiku.

Hari ini kegiatanku tetap sama, pergi ke kantor dekat Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta Barat. Dari Grogol naik angkot, turun di jalan flyover sebelum gedung roxy square. Tinggal nyebrang jalan, sampe di pintu gerbang tempatku mengabdi.

Tak terasa sudah hampir 5 tahun mondar-mandir di jalan Tawakal dan Masjid Al-Ikhlas. Adapun dengan yang bangunan yang satu ini (kampus B), seolah sudah jadi rumah keduaku, tentunya setelah rumah di kampung tempatku dilahirkan.

Berkenaan dengan waktu 5 tahun pengabdianku, aku teringat akan kisah para penegak agama (menolak menyembah dewa-dewi) yang berjuang gigih. Mereka ikhtiar dengan segala macam cara (usaha secara maksimal), tetapi tak berhasil. Ujungnya, mereka kalah dan dijadikan buronan. Mau tak mau mereka bersembunyi ke suatu tempat. Mereka adalah Ashab Al-Kahfi.

Masyarakatnya bernama Ephesus - Romawi, Agamanya Nasrani. Nama gubernurnya Daqyanus yang memerintahkan mereka untuk menyembah dewa-dewi (politeisme).Sebagian yang menolak ajaran itu adalah mereka yang kisahnya diabadikan dalam Qs. Al-Kahfi. Mereka lari ke gua setelah usaha maksimal dan bukan lari karena takut, melainkan karena dapat ilham.

Setetelah tempat persembunyian mereka diketahui, Daqyanus memerintahkan untuk menangkap mereka. Tapi ketika di depan pintu masuk gua, mereka dihinggapi rasa takut dan tidak ada yg berani masuk. Maka akhirnya Daqyanus mempunyai ide untuk menutup goa tersebut. Ditutuplah pintu goa agar mereka yang berada di dalam kelak mati dengan sendirinya, karena tidak bisa keluar.Ternyata harapan itu tidak tercapai. Allah memberikan mukjizat dan kuasanya.

Selama 309 tahun mereka tertidur di dalam gua, sebagaimana ditulis dalan alquran. Mereka bangun serasa baru kemarin. Lalu ke pergi ke pasar untuk membeli makan dan ternyata semua sudah berubah. Baru sebentar, tapi keadaan sudah cukup derastis berubah, tak ada lagi penduduk yang ia kenal. Ia merasa aneh, dan yang melihat dirinya pun seolah aneh dengan gaya pakaiannya.

Karena di pasar membayar dengan uang zaman dahulu (semasa mereka hidup di zaman Daqyanus) tentu sudah tidak berlaku lagi, sehingga dianggap penipu oleh sang pedagang dan akhirnya ditangkap. Setelah diintrogasi terbongkarlah kisah mereka. Mengetahui berita itu, para penduduk dan raja Theodosius bergegas ingin tahu. Ketika sampai ke tempat gua persembunyian, mereka hanya menemukan jasad orang yang telah diintrogasi beserta temannya.

Ternyata Allah mencabut nyawa mereka setelah utusan yang pergi ke pasar dan diintogasi tadi kembali membawa makanan, setelah mereka makan dan kembali tidur untuk selama-lamanya.  Mereka pun meninggal dengan tenang. Setelah memberikan tanda/petunjuk yang besar bagi kaum yang beriman. Adapun jumlah mereka diperdebatkan, bagi umat islam tentu hal itu bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. Adanya bukti mereka ditidurkan selam 309 tahub sudah cukup menjadi bukti kebesaranNya.

Kepemimpinan pemerinrah telah beralih ke Theodosius dan masyarakatnya pun telah menjalankan ajaran agama dengan benar.
----

Pelajaran yang dapat diambil, semoga kisah di atas dapat meberikan pelajaran atas keteguhan dalam berjuang di jalanNya. Begitu pula dengan pengabdianku ini, semoga selalu di jalan yang lurus, tidak keluar dari koridor dan ketentuan agama. Harapannya tentu rahmat dan pertolongan Allah lah yang selalu dituju. Allahu'alam...
___

0 komentar

Klik (bagian 10)

Meski agak ketus, Ningsih sudah mau berkirim kabar lagi denganku lewat chat whatsapp. Ini kemajuan yang harus diapresiasi bahkan bila perlu dirayakan momennya. Soalnya langka banget gaes!

Isinya sih receh, cuma sekedar cari perhatian saja. Aku juga pura-pura gak tahu, biar dia senang. Kalau moodnya dirusak, susah ngebae-baeinnya lagi (kalo kata orang betawi mah). Tahu sendirilah kalau sudah kambuh itu diemnya. Kagak akan keluar satu huruf pun dari mulutnya. Mingkem kayak patung. Terus serba salah jadinya.

Maha benar perempuan dengan segala ke-diam-annya.

Pernah, suatu waktu pas ada acara apa kali (lupa kapan dan tempatnya). Yang jelas, janjiannya tepat waktu. Eh, aku mah sudah ontime, Ningsih ngaret gaes. Berapa lama coba tebak? Sejam! Udah gitu yang kena omel siapa? Harusnya yang berhak ngomel ya yang sudah 60 menit menunggu. Kebayangkan gimana kesel bin dongkolnya.

Tapi, demi jaga moodnya, aku mah diem aja. Jadi pura-pura budeg dan gak punya hati. Kalo hatinya gak disekolahin, sudah meledak dan ledakkannya kayak bom atom di tahun 1943, malah ini lima kali lipatnya. Kota Hirosima dan Nagasaki dijamin gak ada apa-apanya deh hancurnya. Ini tuh hancur sehancur-hancurnya. Remuk berkeping-keping. Sekali lagi, karena disekolahin, jadinya keep calm aja.

"Siang ini, agendanya mw nyetrika ah, mungpung libur..." Kurang lebih begitu isi pesan chat yang terakhir Ningsih kirim padaku. Aku hanya membalasnya dengan motion tangan dikepal, dan ibu jari diangkat. Sebagai bentuk apresiasi akan agenda yang telah dibuatnya. Kalau diterjemahin dengan kata-kata maksudnya itu aku ngomong "Siiip deh..."

Nanti ada kejutan-kejutan apa lagi ya?
____

0 komentar

Klik (bagian 9)

Duhai Ningsih, mungkin kamu kira hanya sedikit kisah dunia percintaan yang kutahu. Atau secara spesifik; kamu kira, aku hanya tahu kisahnya Qais dan Laila saja, sekali lagi tidak!

Di antara sekian banyak kisah-kisah itu, Kisah cintanya Yusuf dan Dzulaikha telah khatam kubaca. Lalu ada kisahnya Basyar dan Hindun. Disusul lagi kisahnya Katsir dan Izzah, Ibnu Duraij dan Lubna, ada lagi Taubah dan Akhyulia, terakhir kisah cintanya Jamil dan Butsainah.

Memang kisah-kisah di atas tidak setenar dan seterkenal Qais dan Laila, sehingga orang lebih akrab dengan kisah Laila Majnun. Padahal kisah mereka juga tidak kalah serunya untuk disimak dan dipelajari. Drama-drama percintaan yang berbeda membuat hidup penuh warna dan rasa.

Selain kisah percintaan di atas tersebut, buku-buku tentang cinta (beberapa) telah selesai kubaca. Terutama bukunya karya Ibnu Hazm (paforitku) yang berjudul Risalah Cinta, judul aslinya Thauq al-Hamamah. Lalu, buku yang berjudul "Semesta Cinta Ibnu Araby" juga.

Tak cukup disitu, kajian Filsafat Cinta juga kuikuti hingga selesai. Pandangan dari tokoh-tokoh dunia barat sampai timur dibedah dengan gamblangnya. Konsep cinta di barat dan di timur tentu ada perbeda, sebab kondisi geografis menentukan kebiasaan setiap individu, termasuk konsep cinta mereka pula.

Dari sisi ilmu psikologinya juga kupelajari. Sebut saja nama salah satu tokoh, Erich Fromm. Etimologi, epistimologi bahkan sampe terminologi khusus tentang cinta, detail kupelajari. Meski kusadar, bahwa pemahamanku masih amatlah dangkal, sebab hanya sebatas teori dan minim praktik.

Sehingga, kesimpulan sementara yang bisa kuambil adalah, terlalu sulit dan sempit memaknai lima huruf ini dengam sudut pandang yang sempit. Cinta itu lebih luas dan tak terhingga bisa dikaji dari sudut disiplin ilmu apapun juga. Sifatnya dinamis serta milik semua makhluk.

Terpenting dari itu semua, konsep cintanya para tasawuflah yang (dalam pendapatku) sangat tinggi derajatnya. Semisal ada Jalaludin Rumi dan Rabiah al Adawiyah. Bagaimana mereka memupuk cintanya bukan lagi dengan makhluk, tetapi sudah sampai kepada khalik (Sang Pencipta).

Pendek kata, Akulah Sang Pecinta!
___

0 komentar

Klik (bagian 8)

Kumandang adzan dzuhur di masjid al-hidayah telah memanggil muslimin untuk menunaikan shalat. Aku bergegas berangkat menuju sumber panggilan tersebut. Kepergianku ke masjid, dibarengi dengan pamitnya Ningsih ke acaranya di kampus Batan.

Tak ada sepatah kata pun antara kami selepas pulang makan soto tadi pagi, hingga kepergiannya di siang hari. Ia seolah mengunci mulutnya rapat-rapat. Meski ada sedikit rasa kecewaku padanya, tapi semuanya buru-buru kubuang jauh. Lagi pula tak baik memendam sesuatu yang buruk, bisa jadi penyakit.

Ketika ia pamit, fokusku sudah teralihkan ke masjid. Semua tentang dirinya pun telah lenyap bersama angin dan terik matahari yang menyengat kulit. Semoga ia baik-baik saja, begitu pula dengan hatinya.

Mudah-mudahan ia mau terbuka di whatsapp atau di facebook. Kadanc ada sesuatu yang sulit diungkapkan lewat kata-kata tetapi lebih nyaman disampaikan cukup lewat tulisan. Mungkin Ningsih tipe orang yang demikian.

***

Sayangnya, waktu sudah menunjukan selarut ini, da  jarum jam menunjukan pukul 22.30 wib, tetapi sedikit kabar pun tak pernah ada darinya. Apa harus kumulai duluan, atau tetap menunggu pesan dari dirinya dulu?

Ah, Ningsih! Memahamimu sungguh rumit melebihi rumus-rumus Pythagoras dan Aljabar saja.

___

0 komentar

Klik (bagian 7)

"Kenapa, hidup ini serasa gak adil..." Kalimat itu tiba-tiba terlontar dari mulut Ningsih. Sedangkan tangannya masih memegang sendok dan juga soto di mulutnya belum sempurna dikunyah. Tangan kirinya sambil mengepal kuat di atas meja, seperti hendak dipukulnya.

"Eit.. hati-hati dengan ucapan tadi, bahaya tau!!! Seperti bukan orang muslim saja..." Langsung kutimpali, sambil menenangkan.
"Emang masalahnya apa?..." Selidikku karena penasaran.

Ningsih kembali diam. Tak ada kalimat lain yang keluar dari mulutnya. Ia hanya fokus menghabiskan semangkuk soto dan dua buah mendoan. Matanya kadang menatap tajam kedepan, seperti ada amarah yang sedang dipendamnya.

Dengan sabar kutunggu, sampai sarapan kami selesai pun, hasilnya tetap nihil. Total harga sarapan kami, semuanya dua puluh ribu rupiah. Kebetulan uang pecahan itu tepat ada di saku depan, tak perlu buka dompet dan lebih cepat.

Sepanjang jalan menuju asrama, Ia masih tak mau bersuara lagi. Susah ya ngadepin orang yang kayak gini; yang ada, serba salah diriku dibuatnya. Meski beberapa kali diajak ngobrol, dicandain dan dihibur, tetap saja ia tak bergeming. Apa ini salah satu indikator ciri orang dengan kepribadian introvert seperti yang dibilang tokoh psikologi, Sigmund Freud?

Entahlah!!!!...
___

 
;