Senin, 24 Desember 2018

Klik (bagian 19)

WAJAH PASARAN

"Kemarin Aku bertemu dengan seseorang yang mirip banget lho wajahnya sama Kakak. Dari putihnya, gaya rambutnya sampai janggut tipisnya juga..." Ini obrolan pembuka yang Ningsih lakukan. Lagi-lagi, demi menjaga suasana mood suasana hatinya, aku simak dengan baik dan tetap antusias. Meskipun sebetulnya, kadang hal ini sering para perempuan lupakan, bukankah mereka juga tidak suka dibanding-bandingkan atau disama-samakan dengan yang lainnya?

Ini sedikit catatan ya, pokoknya jangan pernah ngebandingin orang lain jika diri sendiri saja sejatinya tidak sudi ketika dibanding dengan orang lain. Kalau orang yang dibandingin itu gak sesuai, bisa saja marah. Tapi, jujur! Kalau aku mah enggak akan marah. Sebab bagiku semuanya terserah yang ngomong aja, itu haknya. Adapun hakku adalah mengklarifikasi atau mengkoreksi bila ada yang tidak sesuai.

Intinya sih, ngobrol kami normal seperti biasanya. Mengalir dan kadang ada candaan sedikit supaya tidak terlalu tegang. Malah kalau agak sunyi, aku sering ngomong yang aneh-aneh atau berbau horor. Kadang iseng ngomong "Eh, di belakangmu itu apa ya? Itu yang baju putih.." atau "Itu tadi bayangan hitam yang berkelebat apa ya?.."

Pokoknya keisengan ini kadang digunain kalau obrolan sudah terasa agak garing atau gak ada topik pembicaraan yang dibahas secara menarik. Sayangnya, aku terus yang sering pake teknik ini. Aku nunggu-nunggu Ningsih yang ikutan juga pake caraku, tapi sampai saat ini belum pernah ada. Berharap suatu saat akan terjadi.

Komunikasi yang ingin kubangun adalah komunikasi asertif. Komunikasi asertif itu artinya kominikasi yang sampai secara elegan dan tidak mengalami perubah makna maupun gaya sipenuturnya. Atau menurut wikipedia itu dijelaskan dengan definisi sebagai berikut:

"Komunikasi asertif adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Ketika kita dengan tegas dan positif mengekspresikan diri kita. Tanpa maksud mengalah dan juga menyerang orang."

Intinya disampaikan secara jujur apa adanya, dengan inti pesan itu sendiri yang ingin dicapai atau dituju. Sekali lagi, fokusnya ke inti pesan yang disampaikan, bukan ke ekspresi atau hal-hal yang lainnya. Kategori perilaku asertif itu ada tiga. Pertama, menolak secara halus. Kedua, mengungkapkan pujian. Ketiga, meminta orang lain untuk melakukan sesuatu.

###
Kembali ke obrolan Ningsih yang di atas tadi. Premis yang dilemparkan oleh Ningsih kadang sukar diterka. Tiba-tiba bikin punchline baru lagi. Aku malah menikmati keseruan dengan apa yang ia lakukan. Kebaruan yang selalu ditampilkan membuat suasana begitu asyik dan makin berwarna. Bukankah pelangi itu indah disebabkan karena variasi warnanya? Gak kebayang jika ada pelangi, tetapi hanya terdiri dari satu warna saja. Bisa-bisa wajahku dikira pelangi juga dong, sebab muka pasaran. Heehee...

0 komentar:

Posting Komentar

 
;