Rabu, 26 Desember 2018

Klik (bagian 20)

TAK BERGAIRAH & SEDIH

Semenjak musibah itu datang, hatiku kini terasa gelisah dan tidak tenang. Aku juga heran dengan semua ini, entah karena terlalu diresapi (baper) atau karena banyak perang batin semata yang tiada berkesudahan. Maksud perang batin, yang kumaksud yaitu banyak hal sudah tidak sesuai dengan semestinya. Seperti sudah kacau-balau tatanan hidup ini.

Cara yang biasa kulakukan untuk menepis kegalauan ini, ya dengan mencari sumber bacaan yang mengubah mindset kembali semangat.Tetapi, aku belum menemukan bacaan yang sedang kucari tersebut hingga tulisan ini dimuat. Paling sering dilakukan sih membuka alquran, dibaca, dihayati, dimaknai, dan dicari hikmahnya.

Setiap manusia wajar punya kegelisahan, kegaulauan dan keresahan. Meskipun demikian, supaya tidak berlarut-larut dalam menjalaninya yaitu dengan selalu menjaga sikap optimis itu harus tetap ada. Sehingga tidak mudah goyah apalagi tumbang dengan terpaan angin yang datang dalam skala tak seberapa itu. Harus cepat mengalaisa dan menemukan solusinya.

Ketika pencarian jawaban-jawaban di atas, pada saat datang ke kegiatan rutinku di Masjid Jendral Sudirman untuk Ngaji Filsafat, Dr. Fahrudin Faiz seolah menasihatiku secara pribadi melalui kata-katanya. Kalimat itu kutangkap dengan cepat. "Setiap ada masalah, fokusnya bukan terletak pada solusi. Tetapi pastikan dulu bahwa dirimu kuat. Sebab banyak masalah yang belum ditemukan solusinya..."

Sejam sebelum datang ke Masjid Jendral Sudirman, agendaku ikut hadir di pengajian Rabu malam di Masjid Baiturrahman Pringgolayan. Kebetulan kajiannya tentang Kitab al-Hikam karangan Ibnu 'Athaillah dan bahasannya mengenai dzalim dan iman. Pesan yang kutangkap yaitu "Mental orang dzalim itu ketika diberi nikmat kufur diberi ujian mengeluh. Sedangkan mentalnya orang beriman diberi cobaan bersabar, diberi kelapangan bersyukur.

Semuanya hanya mengenai kesiapan saja. Bagi yang sudah siap dengan segala kondisi, tak masalah ketika hidupnya serba kekurangan. Tetapi bagi yang tidak siap, begitu serba sulit langsung panik. Kuncinya cuma bagaimana mengatur kesiapan tersebut. Nah, orang-orang yang beriman dan bertakwa itu secara tidak langsung kesiapan mental di atas tadi sedang dibangun.

Jangan heran, bila menemukan orang yang sudah pada level tingkat ini, mereka dalam kondisi apapun tetap tidak goyah.sebab semuanya dikembalikan kepasa Allah swt. Iman dan takwa yang teguh; kokoh; kuat dan sempurna itu, mengantarkan dirinya pada fana, dan semuanya hanya milikNya.

Ningsih, itulah kenapa alasanku bahwa semenjak beberapa hari ini aku sedikit tidak cepat respon (slow respon) atas pesan-pesanmu. Ada beberapa hal yang sedang kucari jawabannya. Salah satunya jawaban yang telah kudapatkan ialah pertanyaan yang ini. "Aku mencari dan meminta kebijaksanaan..." Ternyata semua jawaban itu Allah swt beri lewat Masalah-masalah dan aku diminta untuk menyelesaikannya.

Saat ini, masalah-masalah itu seolah semakin numpuk untuk diselesaikan satu persatu. Sayangnya, banyak mentok dan buntu. Ujungnya, kini bingung harus memulai dari mana lagi... Semoga Allah.swt memberikan dan membukakan jalannya supaya lebih mudah...

0 komentar:

Posting Komentar

 
;