Kamis, 27 Desember 2018

Klik (bagian 21)

TERKOYAK REMUK

Sepertinya dirimu berhasil mengoyak tubuhku, Ningsih.

Sudah seharian tubuh ini tak dialiri dengan yang namanya makanan, malah dirimu menambahnya dengan siksaan pula. Memang sikasaan ini tak menumpahkan darah setetes pun, tetapi hal itu mampu meremukan dari dalam dengan seremuk-remuknya.

Sakitnya sungguh sakit. Lebih sakit dari difitnah. Lebih dahsyat dari suudzhan.

Mungkin ini yang disebut oleh Errich Fromm tentang dilema eksistensial itu. Di mana selalu ada dua sisi dalam diri manusia, yang saling dominan kadang berusaha untuk melenyapkan.

Apakah dirimu masih waras? atau sudah gila? Ataukah nalar logikamu sudah tidak jalan dengan semestinya. Sebab dipengaruhi kebebasan.

Perlu dirimu tahu, di saat orang berusaha mendapatkan kebebasan. Ada manusia yang juatru malah lari dari yang namanya kebebasan. Baginya, kebebasan itu sesuatu yang berbeda. Kita manusia, hidup pasti punya tatanan yang harus diikuti dan dijalankan. Jika tidak, maka akan malah jadi aneh.

Jika tetep kekeh bahwa kebebasan itu baik bagimu. Silakan lepaskan pakaian yang kini dikenakan. Jika dirimu waras tentu dalan dirimu akan menolaknya.

Pahamilah, kebebasan itu bukan miliknya manusia. Sebab manusia punya akal dan moral. Kebebasan sejatinya khusus bagi yang tak berakal. Jika tak percaya, silakan baca buku "Escape from Freedom"...
___

0 komentar:

Posting Komentar

 
;