Minggu, 23 Desember 2018

Klik (bagian 17)

BELAJAR DARI MUSIBAH

Ningsih, tahukah dirimu bahwa tepat di ujung barat kabupatenku, dapat musibah. Kemarin (22/12/18), tepatnya sekitar pukul 21.00 wib. air laut menghempas tepian pantai. Katanya gelombang yang datang setinggi 2 meter. Info dari twitter BMKG bahwa itu hanya air pasang yang disebabkan pulan purnama, dan masyarakat dihimbau untuk tenang dan tidak panik.

Sekedae informasi, di sana ada anak Gunung Krakatau yang setiap detik mengancam dan meluluhlantahkan semua yang ada. Termasuk menghilangkan nyawa kami dengan sekejap. Tahun 1883 tepatnya di hari senin pukul 10.56 Ibu Gunung Krakatau meletus. Semenjak ibunya hilang, muncul anak yang baru sebagai tunasnya.

***

Pukul setengah sepuluh tadi malam (22/18), saya dikagetkan dengan sebuah pesan suara dari whatsapp. Isinya kurang lebih begini "Mohon doanya, semoga kami diberikan keselamatan. Ini sekarang lagi ngungsi di gunung..."

Setelah mendapat kabar (yang cukup bikin hati gelisah tersebut) dari salah seorang keluarga jauh ini, saya langsung cek ke internet dan nyari info terbaru. Terutama ke situsnya BMKG dulu, tapi updatenya yang terakhir itu tentang gempa lombok tadi sore hari. Untuk info Labuan - Banten belum ada.

Buntu di sana, cari info diberita online. Tapi masih minim sumber yang di dapat. Maka kesimpulan sementara yang saya cari belum didapat. Akhirnya coba mengais informasi dari kerabat yang tadi sedang mengungsi. Katanya, pas terakhir chatt, ada getaran yang cukup kencang. Ada sura dentuman keras juga, tapi cuma sekali.

Setelah dicek lagi ke berita onlien, didapatlah info dari twitter bmkg yang menyatakan bahwa hal itu bukan tsunami, hanya gelombang pasang biasa yang disebabkan bulan purnama. Masyarakat diminta tenang. Karena mendapati info dari bmkg seperti itu sudah agak tenang.

Tetapu setelah beberapa menit, hape mulai rame dengan kiriman video dan kiriman suara orang yang sedang panik dan suaranya tersengal-sengal. Ada video air yang naik, orang yang siap ngungsi dan lain sebagainya. Dugaan sementara, jangan-jangan ini hanya dibesar-besarkan beritanya oleh oknum tertentu. Makanya saya tetap menahan diri untuk tidak gegabah dan mengupload sesuatu untuk dijadikan status di medsos.

Asumsi awal saya ketika itu, tentang anak Gunung Krakatau. Makanya yang saya tanyakan pertama kali ada gempa atau tidak, jawabnya tidak ada, hanya yang ada getaran saja. Terus yang kesapu air laut, itu yang jaraknya benar-benar dekat dengan tepi pantai. Sehingga wajar kalau rusak dan hancur semua. Air laut sudah sampai ke jalan, karena posisi jalannya memang di dekat pantai.

Tetap berusaha tenang dan berpikir jernih. Ini yang saya coba lakukan. Sambil mencari informasi sebanyak mungkin, supaya tidak salah informasi. Awal-awal sempat sedikit kecewa juga dengan situsnya BMKG yang seolah bikin seseuatu yang terkesan tidak serius, katanya gak berpotensi tsunami tapi yang di lapangan terjadi cikup bertolak belakang.

Belakangan baru saya tahu kenapa BMKG terkesan lambat dan sekaligus terkesan inkonsisten, cukup wajar hal ini terjadi sebab ternyata alat yang digunakan oleh bmkg tidak secanggih alat dan semodern yang dimiliki negara Jepang. Alat mereka lebih akurat dan cepat. Sehingga bisa lebih dini juga memberikan informasi terkait bencana.

Terkait dengan musibah yang sudah terjadi ini, mari kita jadikan pelajaran dan proses untuk intropeksi diri terutama tentang hubungan kita dengan sang maha pencipta. Musibah ini teguran, peringatan bagi kita yang mungkin sudah lalai atau melupakan dirinya. Mari tingkatkan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah swt. jangan buat Dia marah sehingga mengirimkan azab yang lainnya.

Cukuplah yang demikian ini sebagai bentuk peringatan bagi kita sebagai manusia yang berpikir. Allahu'alam...

0 komentar:

Posting Komentar

 
;