Kumandang adzan dzuhur di masjid al-hidayah telah memanggil muslimin untuk menunaikan shalat. Aku bergegas berangkat menuju sumber panggilan tersebut. Kepergianku ke masjid, dibarengi dengan pamitnya Ningsih ke acaranya di kampus Batan.
Tak ada sepatah kata pun antara kami selepas pulang makan soto tadi pagi, hingga kepergiannya di siang hari. Ia seolah mengunci mulutnya rapat-rapat. Meski ada sedikit rasa kecewaku padanya, tapi semuanya buru-buru kubuang jauh. Lagi pula tak baik memendam sesuatu yang buruk, bisa jadi penyakit.
Ketika ia pamit, fokusku sudah teralihkan ke masjid. Semua tentang dirinya pun telah lenyap bersama angin dan terik matahari yang menyengat kulit. Semoga ia baik-baik saja, begitu pula dengan hatinya.
Mudah-mudahan ia mau terbuka di whatsapp atau di facebook. Kadanc ada sesuatu yang sulit diungkapkan lewat kata-kata tetapi lebih nyaman disampaikan cukup lewat tulisan. Mungkin Ningsih tipe orang yang demikian.
***
Sayangnya, waktu sudah menunjukan selarut ini, da jarum jam menunjukan pukul 22.30 wib, tetapi sedikit kabar pun tak pernah ada darinya. Apa harus kumulai duluan, atau tetap menunggu pesan dari dirinya dulu?
Ah, Ningsih! Memahamimu sungguh rumit melebihi rumus-rumus Pythagoras dan Aljabar saja.
___
0 komentar:
Posting Komentar