Minggu, 16 Desember 2018

Klik (bagian 9)

Duhai Ningsih, mungkin kamu kira hanya sedikit kisah dunia percintaan yang kutahu. Atau secara spesifik; kamu kira, aku hanya tahu kisahnya Qais dan Laila saja, sekali lagi tidak!

Di antara sekian banyak kisah-kisah itu, Kisah cintanya Yusuf dan Dzulaikha telah khatam kubaca. Lalu ada kisahnya Basyar dan Hindun. Disusul lagi kisahnya Katsir dan Izzah, Ibnu Duraij dan Lubna, ada lagi Taubah dan Akhyulia, terakhir kisah cintanya Jamil dan Butsainah.

Memang kisah-kisah di atas tidak setenar dan seterkenal Qais dan Laila, sehingga orang lebih akrab dengan kisah Laila Majnun. Padahal kisah mereka juga tidak kalah serunya untuk disimak dan dipelajari. Drama-drama percintaan yang berbeda membuat hidup penuh warna dan rasa.

Selain kisah percintaan di atas tersebut, buku-buku tentang cinta (beberapa) telah selesai kubaca. Terutama bukunya karya Ibnu Hazm (paforitku) yang berjudul Risalah Cinta, judul aslinya Thauq al-Hamamah. Lalu, buku yang berjudul "Semesta Cinta Ibnu Araby" juga.

Tak cukup disitu, kajian Filsafat Cinta juga kuikuti hingga selesai. Pandangan dari tokoh-tokoh dunia barat sampai timur dibedah dengan gamblangnya. Konsep cinta di barat dan di timur tentu ada perbeda, sebab kondisi geografis menentukan kebiasaan setiap individu, termasuk konsep cinta mereka pula.

Dari sisi ilmu psikologinya juga kupelajari. Sebut saja nama salah satu tokoh, Erich Fromm. Etimologi, epistimologi bahkan sampe terminologi khusus tentang cinta, detail kupelajari. Meski kusadar, bahwa pemahamanku masih amatlah dangkal, sebab hanya sebatas teori dan minim praktik.

Sehingga, kesimpulan sementara yang bisa kuambil adalah, terlalu sulit dan sempit memaknai lima huruf ini dengam sudut pandang yang sempit. Cinta itu lebih luas dan tak terhingga bisa dikaji dari sudut disiplin ilmu apapun juga. Sifatnya dinamis serta milik semua makhluk.

Terpenting dari itu semua, konsep cintanya para tasawuflah yang (dalam pendapatku) sangat tinggi derajatnya. Semisal ada Jalaludin Rumi dan Rabiah al Adawiyah. Bagaimana mereka memupuk cintanya bukan lagi dengan makhluk, tetapi sudah sampai kepada khalik (Sang Pencipta).

Pendek kata, Akulah Sang Pecinta!
___

0 komentar:

Posting Komentar

 
;