Senin, 17 Desember 2018

Klik (bagian 12)

Kemarin tiba-tiba datang dan seolah caper, eh setelah chatt terakhir itu hilang lagi. Bak ditelan perut bumi, tak bersisa. Apa aku yang mesti duluan? Sengaja kamu nunggu biar aku peka? Ah, intinya kayak terasa sunyi senyap handphone ini tanpa ada konfirmasi darimu.

Lagi pula, bukankah tempo hari juga aku yang selalu duluan ngechatt. Aku kirim sesuatu yang simpel kadang juga agak remeh, sebagai awal pembuka obrolan kita dichatt. Intinya, sekedar basa-basi supaya ada respon dari dirimu.

Sumpah, ini tuh cukup rumit, susah untuk dipecahin dan dicari solusinya. Entah dengan cara apa dan bagaimana supaya aku bisa mengubahnya. Bikin mumet kayak berita yang kubaca di koran hari ini (Republika, 18/12/18) tentang plastik.

Menurut penelitian Divers Clean Action pada tahun 2017, orang-orang di 10 kota besar di Indonesia menghabiskan 93.244.847 batang sedotan perharinya. Jika disambungin satu persatu, panjangnya mencapai 16.784 kilometer.

Penelitian lain dari Jenna R Jambeck, tahun 2015. Menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara kedua penyumbang sampah plastik lautan terbanyak di dunia dengan jumlah sampah plastik 3,22 juta metrik ton pertahun, atau setara 10,1 persen sampah plastik di planet bumi.

World Wide Fund for nature (WWF) Indonesia tahun 2016, juga memprediksi ada 500 juta hingga 1 miliar kantong plastik yang digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Untuk memproduksinya dibutuhkan sekitar 12 juta barel minyak pertahun dan 14 juta batang pohon yang ditebang.

Sungguh dan sangat gila data di atas bukan? Memahamimu mungkin lebih "njlimet" dari angka-angka dan data di atas. Kuakui satu orang spertimu saja susah untuk aku taklukkan, karena aku sadar bahwa manusia mempunyai satu hal yang tidak dapat diukur, yaitu hati.

Seperti dalam pepatah, "Dalamnya lautan dapat diukur. Adapun dalamnya hati seseorang, siapa yang tahu..." Intinya, supaya bisa memahami isi hatimu maka aku pun harus pula menggunakan semua kemampuan hati yang kupunya untuk menaklukkan tantangan ini. Semoga saja bisa diusahakan dan diberi kemudahan.

Ningsih, jika sampai sore nanti kabarmu juga tak kunjung hadir, maka dirimu sudah sangat keterlaluan. Sungguh teganya! Berarti selama ini, aku kau anggap apa? Semoga saja ada kejutan yang tak terduga seperti kemarin.

____

0 komentar:

Posting Komentar

 
;