CEMBURU KAYAKNYA SIH
Ningsih spertinya sedang cemburu. Cemburu jika aku menghubungi dan mengutamakan orang lain. Wajar sih, tapi perlu dicatat juga, bukankah pas awal-awal juga aku srering digituin? Aku gak marah, biasa saja. Tapi kok sekarang dia marah gak jelas ya? Padahal sudah imbang, skornya kita satu-satu.
Bahkan jauh-jauh hari, aku sudah menganggap semuanya seperti hal yang pada umumnya orang pernah alami. Tapi, mungkin bedanya, ada sedikit nuansa nilai-nilai agama yang kutanamkan. Supaya tidak hilang begitu saja tanpa ada pahala yang didapatkan. Amalan dunia jika tidak diniatkan amalan akhirat, maka akan tetap menjadi amalan dunia. Kecuali diniatkan menjadi amalan akhirat, begitu juga sebaliknya ya.
Dalam hidup tentu banyak halangan dan rintangan, baik bentuknya besar maupun kecil. Sejatinya yang besar itu akumulasi dari masalah-masalah kecil. Tersebab masalah kecil itu tak kunjung disapu dan dibersihkan, maka menumpuklah sehingga menjadi tumpukan yang tinggi lagi besar. Alhasil, tanpa disasadari sudah sebesar gunung.
Mungkin inilah yang akhirnya menjadikan masalah tersebut sulit untuk disingkirkan. Kita terlalu sering menunda dan mengesampingkan masalah kecil, sehingga masalahnya runyam, mirip gulungan benang yang ujung-ujungnya melilit semrawut.
Hari ini kita mengalami hal yang demikian rumit. Tumpukan masalah dari masa lalu dibawa ke kehidupan hari ini. Sehingga semua terasa sumpek dan membebani isi kepala, dari yang remeh hingga setumpuk gunung.
Semua cukup sederhana dan simpel. Nikmati proses itu, maka akan diperoleh hasilnya kemudian. Sabar dan sabar dengan proses yang dijalani. Yakinlah ada hikmah dari setiap kejadian.
___
0 komentar:
Posting Komentar