".... Tak bisa Aku menyalahkanmu. Inilah jalamu, inilah nasibku yang tak kusuka. Asal kau tahu, seumur hidupku Aku tetap cinta..."
Itulah, kutipan lagu dari Revublik yang judulnya Aku Tetap Cinta; yang kudengar dari sound pos SISKAMLING sebelum gang tempat asramaku berada. Makin lama lagunya semakin mendayu-dayu seiring kuberjalan melangkah menuju jalan raya. Dari kejauhan Aku juga sedikit menikmati serta menyimak beberapa lirik dari lagu tersebut.
Sepertinya, lagu ini sedikit cocok untuk menggambarkan situasi perasaanku dengan Ningsih. Semoga engkau mendengarkan lagu yang kumaksudkan di atas! Sumpah lagunya mellow banget. Gak tahu jelas sih lagu ini berkisah tentang apa tapi lirik dan nadanya cukup menyentuh.
Apa aku yang baper ya? Sedikit-sedikit jadi langsung dibawa ke perasaan. Atau karena ada sesuatu yang lebih dalam dari baper, sehingga berimabas ke mana-mana. Jalan gak fokus, mata kunang-kunang, dan kadang sering lupa ini dan itu. Banyak banget yang kualami semenjak ada konflik kecil dengan Ningsih.
Atau gara-gara perang batin yang selama beberapa bulan ini terus hadir dalam pikiranku. Seolah bisikan gaib itu akan menunjukanku ke sebuah tujuan tertentu. Yang bikin heran itu, kadang muncul dalam bentuk suara sekelebatan, "Dia itu gak keibuan..." atau "Jangan deketin..." dan pernah juga "Jangan lewat situ..."
Suara bisikan itu kadang agak menganggu, kadang juga merasa terbantu. Harus terus lebih dibolak-balik berulang kali dalam mengambil sebuah keputusan yang akan diambil. Tidak sekedar asal-asalan.
Mungkin ini salah satu unsur dalam hidup yang berupa insting, atau dimensi nabatiah dari proses hidup yang awal dan paling dasar, sesuai dengan teori kehidupan manusia. Unsur bawaan inilah yang secara sadar atau tidak ada dalam diri kita. Sewaktu bayi, ketika kita lapar atau tidak nyaman, maka yang dilakukan adalah menangis. Inilah insting, unsur nabatiah manusia.
___
0 komentar:
Posting Komentar