Kamis, 24 Januari 2019

Coretan Ke 26

Kupu-kupu malam

Semenjak ada ojol (ojek online), tempat makan itu kini jadi markas ojek yang berseragam jaket berwarna hijau hitam. Mereka biasa ngumpul dan ngobrol sesama ojol, sambil menunggu orderan. Topik yang dijadikan bahasan biasanya ngalor ngidul aja sih.

Biasanya ada beberapa perempuan yang nge-kost di penginapan itu, dan mereka akrab dengan ojol juga. Aku pernah mendapati mereka saling ngobrol di depan tempat makan itu. Kebetulan aku mau makan juga ketika itu. Dari setelah selesai ngobrol, perempuan itu balik ke penginapan yang kumaksudkan.

Ningsih, perlu kamu tahu. Rumah penginapan yang di sebrang warung makan tempatku biasa sarapan dini hari? Di sana sering parkir mobil-mobil mewah atau sekedar menurunkan penumpangnya. Pernah yang turun dari mobil itu, ikut makan di sebelahku. Wuiiih. Pokoknya kerasa banget aura "ituny", ini subejektif ya.

Dari penampilan pakaian dan dandanannya sih, jelas bukan level kelas menengah ke bawah. Aroma parfumnya juga berkelas gaes. Tapi dari makanan yang dipesan dan cara makannya yang sederhana, aku juga bisa tahu bahwa ia berasal dari orang biasa.

Pernah juga ada yang turun dari mobil dua orang cewek. Langsung ke tempat makan dan memesan mie goreng tak lupa es tehnya juga. Mereka ngobrolin seputar kerjaannya, klien, sampe hal-hal sepele. Kata salah satunya sih, gak sempet makan dan cuma minum aja.

Saat tulisan ini dimuat, barusan saja keluar sebuah mobil sedan hitam keluar dari rumah penginapan. Entah abis nurunin atau baru jemput pelanggan. Aku gak liat masuknya sih, jadinya cuma bisa ngira-ngirain ajah.

Dunia Gemerlap
Di balik duni yang carut marut ini, tentu ada hal di luar nalar manusia pada umumnya. Merekalah orang yang mengais kehidupan dengan cara ekstrim dan berbahaya. Selain mencedrai dirinya, kelak luka itu juga akan dibawa seumur hidup.

Dalam urusan bekerja, mereka juga tidak kalah giatnya dengan para pegawai kantoran dan pegawai lainnya. Ada target serta capaian yang musti mereka kejar, supaya terus eksis dan tidak kalah pamor dengan pendatang baru. Intinya persaingan di antara mereka amat ketat.

Dari sebuah sumber yang pernah dibaca, pengasilan mereka besar. Tetapi untuk menembusnya juga butuh cara yang ekstra keras juga. Belum lagi dituntut untuk bisa mengikuti orang yang membayar, sehingga kepuasan tiap orang standarnya beda-beda. Jadi, jika masih pemula dan tekadnya gak kuat, pasti mental duluan.

Mereka bisa dibilang perusak, tapi mengapa ada saja yang menggubakan jasanya? Sebab kenyataannya, ada yang lebih rusak dan bejat dari mereka. Lalu, dimanakah posisi kita saat ini?
___

0 komentar:

Posting Komentar

 
;