Sabtu, 02 Februari 2019

Coretan ke 27

Ketika itu sikon tidak begitu kondusif dan kurang menguntungkan. Nomor sudah lewat masa aktif, wifi mati, di kantong cuma ada beberapa lembar dua ribuan. Pokoknya serba tidak mendukung. Terus kamu bikin kesel juga, ya sudah hingga memuncaklah semuanya menjadi anti klimaks.

Bukan maksudku menyalahkan siapapun, termasuk menyalahkan keadaan. Tidak, semua tudak ada yang kusalahkan. Mungkin inilah namanya perjalanan yang harus kutempuh. Kalau dalam bait lagunya Revublik mah "Inilah jalanku yang tak kusuka..." Lantas mau apa? Terima saja semuanya. Nikmati dan ambil hikmah sebanyak-banyaknya.

Aku juga bukan tidak mau untuk berdamai dengan semua ini, tapi kadang selalu saja ada ujiannya. Memang begitu adanya, kalau kita sudah komitmen dengan satu hal, maka siap-siaplah diuji. Mungkin juga dengan kamu, waktu itu. Kita diuji juga, hingga hasilnya ya seperti ini.

Dalam benakku, dia yang membersamaimu dalam kesusahan lebih baik ketimbang ia yang membersamai setelah masa itu berlalu. Artinya, orang yang selalu ada dalam keterpurukan jelas lebih istimewa. Dulu, aku nganggepnya kamu begitu. Makanya, santai-santai saja. Bukan aku tak serius, tapi melihat sejauh mana usaha itu kita tempuh

Bisa bangkit bersama, berjuang bersama, menaiki level bersama, pokoknya kita maju bersama. Aku bukan orang yang nyaman dengan ketimpangan, aku pengen kita sama-sama menikmati semuanya bersama. Susah dan senang bersama. Bukan aku senang kamu enggak, aku bahagia kamu enggak.

Usaha kita sudah jatuh bangun beberapa kali, bangkit lagi. Jatuh lagi. Bangun lagi. Hingga kita lupa sudah berapa kali jatuh dan berapa kali bangun. Tapi akhirnya kamu yang menyerah. Bukankah rumusnya itu bukan berapa kali kita jatuh? Tapi setiap kali jatuh maka bagaimana caranya kita bangkit.

Kamu lupa dengan kalimat yang kubuat, "semangat membangun dan lebih baik.." dari kalimat ini kusampaikan, jika suatu hari nanti kita jatuh, ingetin kata-kata ini. Nyatanya kamu lupa. Atau memang sengaja melupakannya.

Ah, mungkin sudah begitu adanya. Kamu juga masih dengan mudahnya berpaling kepada orang lain, tak pernah memikirkan capaian yang dulu pernah kita dibangun dari awal hingga saat ini. Seharusnya, jika dirimu sadari akan hal ini, pasti tidak akan pernah ada kata berakhir, melainkan hanya bagaimana merekontruksi dan membangun.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;