Minggu, 16 Desember 2018

Klik (bagian 4)

Entah kenapa, ada dorongan yang amat kuat dari dalam hati untuk mengunjungi rumahmu. Setelah sekian banyaknya pekerjaan yang numpuk itu terselesaikan, barulah aku bisa meluangkan waktu. Ahad sore bada ashar ku berangkat. Sengaja, aku tidak lebih dulu memberitahukanmu...

Biasanya lewat selatan, kali ini kucoba lewat sisi timur. Sekalian nyoba jalan baru. Setelah sekian lama minta bantuan perbaikan jalan dari tahun 2010, baru terlaksana sekarang. Lewat sisi timur cukup jauh, bisa kena empat puluh lima menitan kira-kira.

Beberapa perkampungan kulewati, pemandangan pesawahan dan para penggembala kambing dan kerbau kerap kusaksikan di pinggir jalan. Owh iya kendaraan yang pulang 'ngabesan' juga ada dua atau tiga kalau tidak salah kudapati berpapasan. Hingga kejanggalan itu muncul tanpa kusadari.

Tak kuhiraukan berjejernya motor dan mobil di depan kampungmu yang diapit sawah. Dalam batinku "Ada yang nikah sepertinya, rame banget jalannya..." aku tiba di dekat rumahmu, dan tepat di gang yang biasa itu kuparkirkan motor.

Alangkah terkejut dan kagetnya, kala kulihat tenda dan kursi-kursi itu tepat di rumahmu. Dekorasi panggung dan depan rumah disulap jadi super mewah nan elegan. Para tamu undangan sedang lahap makan dan berlalu lalang.

Andai saja mentalku lemah, mungkin jatuh pingsan. Tapi sebagai seorang kesatria, pantang mundur meski gejolak di dada bagaikan gemuruh petir yang siap menggelegar dan menghantam apa saja di bumi. Ada amarah seperti letupan lahar gunung merapi, menyala seperti besi terbakar.

Situasi tetap kujaga, tetap tenang dan tenang. Ku tetap mendekati rumahmu dan coba masuk ke keramaian. Tiba-tiba ada lelaki seumuranku ya langsung memeluk dan matanya merah seperti akan mengeluarkan air mata. "Kamu datang juga... Maafkan kami ya..." Sambil mempererat pelukannya.

Tatapanku masih fokus ke papan kecil di atas panggung yang ada tulisan tangan dari kapur warna. Dari depan tampak jelas, ada  huruf 'N'. Tapi deretan huruf selanjutnya terhalang tamu undangan yang sedang mengambil hidangan di perasmanan.

Ketika tulisan itu sudah terlihat dengan jelas tanpa ada halangan. Eh, kumandang adzan subuh membangunkanku. Kubaca doa, Alhamdulillahiladzi ahyana badama amatanaa wa ilaihi annusur...
____

0 komentar:

Posting Komentar

 
;